Masyarakat Muslim Yang Berdaulat

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, …” (QS. An Nur: 55)

Dalam surat di atas dengan jelas Allah SWT menjanjikan kekuasaan bagi orang-orang beriman dan yang mengerjakan amal shaleh. Namun apakah arti dari kekuasaan itu? Kekuasaan sangat erat hubungannya dengan politik dan kedaulatan, sebagaimana Rasulullah saw meg-ejewantahkan ayat ini dengan mendirikan sebuah masyarakat yang berdaulat di Madinah, atau juga bisa disebut mendirikan sebuah negara Islam di Madinah (ayat ini turun beberapa saat setelah peristiwa hijrah). Tapi tidak berhenti disitu saja, seperti cita-cita Rasulullah saw yang beliau sampaikan pada perang Khandak, wilayah geografis Islam pun menyebar sampai ke Eropa dan Afrika Utara.

Hijrah ke Madinah

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah panjang Umat Islam adalah hijrahnya Umat Islam ke Madinah. Karena peristiwa inilah yang menentukan keberlangsungan perjalanan Umat Islam sampai terus berkembang pesat hingga 15 Abad. Allah SWT telah menentukan Madinah sebagai tanah air Umat Islam.

Peristiwa hijrahnya Umat Islam ke Madinah bukanlah semata-mata untuk menyelamatkan diri dari ancaman dan siksaan kaum kafir Quraisy di Mekkah. Karena sesungguhnya, ketika di Mekkah, Umat Islam mampu memberontak dan melawan kaum Kafir Quraisy. Akan tetapi resikonya terlalu besar, jika Umat Islam kalah di Mekkah maka selesailah perjalanan sejarah Umat Islam.

Peristiwa hijrahnya umat Islam merupakan sebuah tindakan yang diambil untuk mengokohkan Umat Islam. Dengan hijrahnya umat Islam ke Madinah maka lengkaplah Umat Islam menjadi Masyrakat yang Berdaulat. Karena seperti yang kita ketahui bersama, syarat-sayrat sebuah negara berdiri, yaitu memiliki pemimpin, memiliki rakyat, memiliki undang-undang dasar dan memiliki wilayah geografis.

Umat Islam, ketika itu, sudah memiliki Rasulullah saw sebagai pemimpinnya, sahabat Anshar dan Muhajirin sebagai rakyat dan Al-Quran sebagai undang-undang dasar (walaupun belum lengkap diturunkan). Tiga dari empat syarat pembentukan sebuah negara sudah dimiliki Umat Islam, hanya satu syarat yang belum dimiliki, yaitu wilayah geografis. Maka hijrahnya Umat Islam ke Madinah untuk melengkapi syarat geografis untuk menjadi masyarakat yang berdaulat, yang dapat mengatur rumah tangganya sendiri.

Pengaturan Masyarakat Berdaulat di Madinah

Sebelum Rasulullah saw memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah saw sebelumnya telah mengutus seorang sahabat terbaik untuk melakukan syiar dakwah di Madinah. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Perjuangan dakwahnya begitu luar biasa, hingga tidak satupun rumah yang ditemui di Madinah yang tidak ada penghuninya yang mengucapkan kalimat La Ilaha Ilallah, Muhammadur Rasulullah.

Dengan masuk Islamnya sebagian besar penduduk Madinah, maka Madinah begitu kondusif bagi Umat Islam. Hingga ketika Rasulullah saw masuk Madinah, beliau tidak terlalu sulit untuk membuat sebuah sistem masyarakat di Madinah, karena ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya sudah terbangun sebelumnya.

Pertama kali yang dilakukan Rasulullah saw ketika sampai di Madinah adalah membuat simbol kenegaraan, yaitu Mesjid Nabawi, sebagai basis komando dan pembinaan Umat Islam. Setiap kali musyawarah penentuan strategi perang dilakukan di Mesjid Nabawi, selain musyawarah sesuatu yang bentuknya instruksi atau perintah lagsung juga disampaikan di Mesjid Nabawi, seperti perintah berperang.

Selain membuat simbol kenegaraan, yang dilakukan Rasulullah saw ketika sampai di Madinah adalah membentuk persaudaraan sesama Islam. Ini adalah proses pembentukan rasa nasionalisme Umat Islam, namun rasa nasionalisme bukan berdasarkan kesukuan atau wilayah geografis tertentu, melainkan berdasarkan ikatan aqidah. Hal ini sangat penting agar Umat Islam rela berkorban demi Allah SWT dan Rasul-Nya. Juga menimbulkan rasa itsar atau mendahulukan orang lain, hingga memudarlah rasa egoisme pribadi dan golongan.

Yang harus diingat, Madinah tidak hanya dihuni oleh Umat Islam. Ketika itu ada sebagian kecil penduduk Madinah yang masih memeluk agama nenek moyangnya dan juga kaum Yahudi. Untuk menghindari potensi konflik, sehingga merugikan Umat Islam sendiri, maka Rasulullah saw membuat perjanjian dengan kaum Yahudi agar terjalin perdamaian. Perjanjian damai ini tidak dilakukan terhadap kaum Yahudi secara kolektif, melainkan dilakukan pada setiap suku yang ada. Sehingga jika terjadi penghianatan terhadap perjanjian oleh salah satu suku Yahudi, suku lain tidak membantu karena sudah terikat perjanjian lain dengan Umat Islam.

Ketika seluruh kaum yang ada di Madinah telah terikat perjajian dengan Umat Islam, Rasulullah membuat piagam madinah sebagai bentuk kontrak perjanjian bersama. Inti dari isi piagam Madinah ini adalah setiap kaum yang ada di Madinah tidak saling menggangu dan menyakiti, dan kaum musyrikin dan Yahudi wajib membayar Jizyah/ iuran kepada Umat Islam sebagai jaminan perdamaian.

Setelah mengkondisikan internal Madinah, maka Rasulullah mulai membangun aliansi dengan kabilah-kabilah yang berdomisili di sepanjang jalur perdagangan di utara dan selatan Madinah. Tujuannya untuk mempersempit jalur perdagangan kaum kafir Quraisy ke Syam. Karena dengan dipersempitnya jalur perdagangan ini, Umat Islam memmpunyai bargainning position yang kuat di depan kaum kafir Quraisy. Hingga dengan inilah nanti perjanjian Hudaibiyah terwujud.

Legitimasi Publik

Dalam membentuk sebuah negara tidak cukup sampai secara de facto dan de jure saja negara itu terbentuk, tapi juga membutuhkan legitimasi atau pengakuan publik. Contohnya Palestina, de facto dan de jure Palestina bisa dipastikan sebagai sebuah negara, namun legitimasi publik belum dimiliki sepenuhnya oleh Palestina. Negara kuat sperti Amerika, Inggris dan tentu saja Israel belum mengakui Palestina.

Oleh karena itu legitimasi publik sangat diperlukan oleh Umat Islam. Berbagai cara telah dilakukan Rasulullah saw, seperti menjalin kerjasama dengan beberapa kabilah dan mengutus beberapa sahabat menemui raja-raja yang ada di jazirah Arab. Hingga legitimasi ini resmi terwujud ketika ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah. Karena dengan ditandatanganinya perjanjian ini berarti kaum kaifr Quraisy mengakui adanya Masyarakat Islam di Madinah. Selain itu, karena Mekkah adalah salah satu negara yang diperhitungkan ketika itu, kabilah dan negara lain yang ada di Jazirah Arab pun ikut mengakui adanya Masyarakat Islam di Madinah.Setelah perjanjian ini terwujud, jelaslah kabilah-kabilah yang berkoalisi dengan Umat islam, karena mereka sudah berani mengumumkannya terang-terangan.

Kenapa Harus Berdaulat?

Ada tiga manfaat besar dengan didirikannya masyarakat Islam yang berdaulat:

1. Negara sebagai atap pelindung Umat Islam dalam menjalankan segala ajaran Islam. Dengan adanya pengakuan Umat Islam sebagai sebuah negara, maka kaum musyrikin, Nasrani dan Yahudi tidak berhak mengusik Umat Islam.

2. Dengan dibentuknya sebuah negara, maka hak dan kewajiban Umat Islam dapat dijadikan menjadi sebuah aturan negara sehingga dapat mengikat dan mempunyai sanksi yang jelas jika dilanggar. Contonya ketika Khalifah Abu Bakar r.a. memerangi Umat Islam yang tidak mau membayar zakat, ini sebagai bukti bahwa zakat sudah dijadikan aturan negara yang jika dilanngar maka ada sanksinya.

3. Negara sebagai sarana legitimasi da’i-da’i untuk menyebarkan agama mulia ini, baik dengan jalan damai maupun jalan peperangan.

Penutup

Sebagai penutup ada baiknya kita merenungi dan memepelajari hadits berikut

“Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Kami duduk-duduk di Masjid Rasulullah saw, Basyir adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kemudian datang Abu Tsa’labah seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah kamu hafal hadits Rasulullah saw tentang para penguasa?” Maka Hudzaifah tampil seraya berkata, “Aku hafal khutbahnya.” Lalu Abu Tsa’labah duduk mendengarkan Hudzaifah berkata: Rasulullah saw bersabda: (1) Muncul kenabian ditengah-tengah kamu selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya. (2) Kemudian akan muncul khalifah sesuai dengan sistem kenabian selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya. (3) Kemudian muncul “raja yang menggigit” selama masa yang dikehendak Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya. (4) Kemudian akan muncul “raja yang diktator” selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketiaka Ia menghendakinya. (5) kemudian akan muncul (lagi) khilafah sesuai dengan sistem kenabian …”

Menurut para ulama, sekarang merupakan periode keempat, yaitu periode “raja yang diktator”. Namun kita tidak tahu kapan Allah akan mencabutnya, sehingga munculah kembali kekhalifahan Umat Islam.

Referensi:

Amahzun, Muhammad, 2006. Manhaj Dakwah Rasulullah. Jakarta: Qisthi Press.

al-Basya, Abdurrahman Raf’at, 2005. Sosok Para Shabat Nabi. Jakarta: Qisthi Press.

ibn Ali Jabir, Hussain ibn Muhammad, 2007. Menuju Jama’tul Muslimin. Jakarta : Robbani Press.

Khaththab, Mahmud Syeit, 2005. Rasulullah Sang Panglima. Cemani: Pustaka Al-Alaq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s