Don’t Give Up and Keep Moving Forward

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa.” (Ali-Imran : 133)

Allah menciptakan manusia dari setetes air menjadi gumpalan daging, lalu diberi tulang belulang dan ditiupkan ruh kedalam gumpalan daging itu. Allah SWT menciptakan manusia dengan sifat yang pelupa dan khilaf, maka Allah SWT pun memberikan sarana untuk menutupi sifat buruk ini, yaitu dengan taubat. Namun bagaimanakah konsep taubat itu? Karena sesungguhnya taubat itu tidak hanya menyesali kesalahan tapi juga memperbaikinya dan bertekad tidak melakukan kesalahan yang sama selanjutnya.

Dari ayat diatas, dapat kita lihat bahwa konsep taubat itu harus dilakukan segera. Adapun melihat kesalahan dimasa lalu dilakukan hanya untuk mengevaluasi dan mendapatkan pelajaran dari kesalahan tersebut. Melihat kebelakang bukan dilakukan untuk meratapi kesalahan yang berlebihan sehingga kita jatuh dalam lembah keputus -asaan dan krisis motivasi. Seperti Allah SWT firmankan sebagai berikut:

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, maka berjalanlah dimuka bumi dan perhatikanlah akibat orang-orang yang mendustakan.” (Ali-Imran: 137)

Antara Nosltagia dan Putus Asa

Dalam Islam kita diajarkan untuk lebih banyak melihat kedepan, maka dari itu Rasul saw mengajarkan kita untuk sering-sering mengingat kematian. Karena kematian adalah masa depan, kematian bukanlah bagian dari hidup kita yang ada di masa lalu.

Setiap manusia pasti memiliki masa lalu, baik yang indah maupun yang buruk. Kenangan indah dapat memberikan kita kebahagiaan tersendiri jika mengingatnya dan menjadi pelajaran kesuksesaan bagi kita di masa depan ataupun bagi keturunan kita. Kenangan buruk akan menjadi pelajaran berharga agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

Namun jika kenangan masa lalu ini, yang indah maupun yang buruk, dikenang berlebihan akan menimbulkan dampak negatif bagi kita. Jika kita hanyut dalam kenangan indah dan terus bernostalgia tanpa kita kembali menatap masa depan akan membuat kita selalu membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang indah di masa lalu. Kita akan terus berharap keadaan sekarang dan nanti untuk sebaik dan seindah dulu, tanpa disadari bahwa kondisi, situasi dan orang yang kita hadapi sudah berubah. Kita akan hanyut dalam tuntutan agar setiap orang dan setiap kondisi berlaku seperti dulu. Maka kita akan menjadi orang yang hanya bisa menuntut tanpa bisa melakukan sesuatu untuk merubah kondisi agar lebih baik.

Adapun kenangan buruk yang berlebihan membuat kita jatuh dalam gua kesedihan kita sendiri. Kita terus meratapi dan menyesali apa yang dulu telah dilakukan atau tidak dilakukan. Keadaan ini membuat kita buta akan keadaan sekeliling kita, seolah dunia sudah kiamat dan kesalahan kita tidak termaafkan dan tidak bisa diperbaiki. Padahal Allah SWT berfirman:

“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya kecuali orang-orang yang sesat.” (Al-Hijr: 56)

Orang yang berputus asa dengan kehidupannya sesungguhnya sudah disesatkan oleh syetan. Rasul saw pun telah menceritakan tentang orang yang tidak berputus asa akan ampunan Allah SWT dan segera memperbaikinya. Berikut kisahnya:

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudry r.a. bahwa Nabi saw bersabda: “Sebelum zaman kalian pernah ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, lalu dia menanyakan perihalnya kepada seorang yang paling ‘alim pada masanya. Dia pun ditunjukkan kepada seorang rahib; dia pun mendatangi rahib tersebut. Kepada rahib tersebut dia menuturkan bahwa dirinya telah membunuh 99 orang, apakah mungkin taubatnya masih diterima. Rahib tersebut mengatakan bahwa taubatnya tidak mungkin diterima. Orang itu pun lalu membunuh rahib tersebut hingga genaplah 100 orang yang teah dibunuhnya. Setelah itu ia mencari orang yang paling ‘alim lagi di zamannya, lalu ditunjukkanlah kepada seorang yang ‘alim. Ia lalu mengatakan kepada orang yang ‘alim tersebut bahwa dirinya telah membunuh 100 orang, apakah mungkin jika bertaubat, akan diterima? Orang ‘alim tersebut menjawab: ‘Bisa. Memang siapa sajakah yang bisa menghalangi antara seseorang dengan taubatnya? Sekarang, berangkatlah engkau ke kampung ini dan ini, sebab di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Janganlah engkau kembali ke kampungmu, sebab kampungmu itu kampung yang buruk.’ Orang itu pun lalu berangkat. Ketika sedang dalam perjalanan, tiba-tiba maut datang menjemputnya. Melihat kejadian ini, bertengkarlah maaikat pembawa rahmat dan malaikat yang bertugas menyiksa. Malaikat rahmat berkata: ‘Dia datang sudah dalam keadaan sudah bertaubat secara ikhlas kepada Allah.’ Malaikat adzab berkata: ‘Benar, namun dia kan belum berbuat kebaikan sama sekali?’ Selanjutnya, datanglah seorang malaikat lain yang menyerupakan dirinya dalam wujud manusia untuk menengahi pertengkaran mereka. Malaikat itu berkata: ‘Kalau begitu, ukurlah oleh kalian jarak dari sini ke kampung yang ditinggalkan dan ke kampung yang hendak dituju lelaki itu; ke kampung mana yang lebih dekat, berarti dialah yang berhak atas orang ini. Keduanya lalu sama-sama mengukur dan ternyata posisi orang tersebut lebih dekat pada kampung yang akan ditujunya, sehingga malaikat rahmat membawa orang tersebut.’”

Dari kisah tersebut tercermin betapa besarnya kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang mau menyadari kesalahan dan bangkit untuk memperbaikinya. Allah SWT tidak akan memutuskan rahmatnya bagi hambanya yang tidak putus asa. Kasih sayang Allah SWT begitu besar, hingga jangan kita berputus asa!

Keep Moving Forward

Betul, bahwa kita memiliki masa lalu. Tapi kita tidak hanya memiliki masa lalu, kita juga memiliki masa depan, dan masa depanlah yang akan kita jalani, bukan masa lalu. Masa lalu adalah masa lalu, masa yang tidak dapat kita ulang dan kita rubah, masa yang sudah terjadi. Ketika dulu kita telah menyakiti seseorang, kita tidak akan bisa mengulang masa itu dan merubah keadaan agar kita tidak menyakiti orang tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki kesalahan itu dengan meminta maaf secara sungguh-sungguh dan tidak melakukannya lagi. Ataupun ketika kita merasa sekarang kita salah mengambil jurusan atau program studi ketika kuliah, kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk merubah pilihan kita. Yang bisa kita lakukan adalah hadapi dan selesaikan apa yang telah kita mulai dulu.

Masa depan, adalah sebuah harapan dan cita-cita, walaupun masih ghaib. Namun hal yang ghaib itu bisa kita rubah menjadi nyata. Masa depan adalah milik kita, masa lalu telah berlalu. Tetaplah bergerak kedepan, tetaplah melaju, karena sungguh waktu tidak pernah melaju ke belakang. Waktu akan terus berdetak dan menghabiskan usia kita.

Lalu manakah yang harusnya lebih banyak kita lakukan, meratapi masa lalu yang telah berlalu yang tidak bisa kita ulangi? Ataukah menata masa depan yang belum terjadi yang menjadi harapan dan cita-cita kita?

“Around here, however, we don’t look backward for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we are curious… and curiousity keeps leading us down new paths. Keep Moving Forward…” (Walt Disney)

” We do have a past, but we don’t just have it, we also have a future.. so don’t look backward too much, in fact, we must look farward most.. Keep moving forward, because time not moving backward..”
Deni Sahmaulana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s