EDUCATION FOR ALL

“… melindungi segenap bangsa Indonesia dan  seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Pernahkah kita mendengar atau membaca penggalan kalimat diatas? Ya, itu merupakan Pembukaan UUD 1945 alenia ke 4. Bahwa cita-cita bangsa ini berdiri adalah untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dan mencerdaskannya. Hal ini diperkuat dalam UUD 1945.

Pasal 28 B ayat 2 (Amandemen UUD 1945): “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan  dan diskriminasi.”

Pasal 28 C ayat 2 (Amandemen UUD 1945): “Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Dengan prinsip-prinsip diatas maka seharusnya pendidikan dapat dinikmati oleh semua kalangan. Setiap anak berhak dan, bahkan, wajib mengecap dunia pendidikan yang memadai dan berkualitas.

Ketika kita berbicara tentang kesamaan hak pendidikan, hal yang terfikir oleh kita adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu harus bisa Sekolah. “Pendidikan itu bukan hanya untuk orang kaya”, begitu sering kita utarakan. Tahukah kita, ternyata permasalahan kesamaan hak mengecap pendidikan bukan hanya masalah ketidakmampuan keluarga untuk menopang dana pendidikan. Ternyata masalah kesamaan hak ini jauh lebih luas dari pada itu.

Ternyata untuk permasalahan beban dana pendidikan ini termasuk masalah yang ringan dalam dunia pendidikan, dengan catatan anak tersebut cerdas dan berprestasi. Justru permasalahan yang lebih rumit bagi anak-anak yang tidak sempurna fisik atau mentalnya, karena merekapun wajib mendapatkan kesamaan hak dalam pendidikan. Seperti pasal 28 B ayat 2 diatas, tidak boleh ada diskriminasi di dalam pendidikan. Tapi yang terjadi kita malah memandang sebelah mata untuk hal ini.

Sadar atau tidak sadar, kita telah mendikotomikan antara anak-anak normal dengan anak-anak yang memiliki cacat fisik atau mental. Dikotomi ini sangat terlihat jelas dengan didirikannya sekolah luar biasa (SLB). SLB ini seakan menegaskan bahwa untuk anak-anak yang memiliki cacat fisik atau mental tidak bisa disamakan hak didiknya dengan anak normal. Karena kurikulum, pola pengajaran dan lingkungan sosiologisnya dibedakan dengan anak normal. Padahal anak yang memiliki cacat mental dan fisik ini perlu bersosialisasi dengan anak pada umumnya di kesehariannya.

Lalu bagaimanakah seharusnya kesamaan hak ini bisa di-implementasikan?

Mungkin diantara kita sudah pernah dengar dengan konsep sekolah inklusi. Apakah itu sekolah inklusi? Banyak orang yang justru keliru dalam mendefinisikan sekolah inklusi, bahkan untuk seorang tenaga pendidik pun masih keliru. Fakta lain juga menunjukkan tidak sedikit dari pengelola pendidikan menganggap konsep sekolah inklusi ini hanya menjadi beban bagi mereka.

Sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang tetapi disesuaikan dengan kemampuan dari kebutuhan setiap siswa maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil (Stainback, 1980).

Pendidikan inklusi didasari semangat terbuka untuk merangkul semua kalangan dalam pendidikan. Pendidikan inklusi merupakan implementasi pendidikan yang berwawasan multikultural yang dapat membantu peserta didik mengerti, menerima, serta menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya, nilai, kepribadian, dan keberfungsian fifik maupun psikologis.

Adapun filosofi yang mendasari pendidikan inklusi adalah keyakinan bahwa setiap anak, baik karena gangguan perkembangan fisik/ mental maupun cerdas/ bakat istimewa berhak untuk memperoleh pendidikan seperti layaknya anak-anak normal lainnya dalam lingkungan yang sama. Secara lebih luas, ini bisa diartikan bahwa anak-anak yang normal maupun yang dinilai memiliki kebutuhan khusus  sudah selayaknya dididik bersama-sama dalam sebuah komunitas yang ramah dan menyenangkan. Dengan keberagaman yang ada di dalamnya sekolah inklusi memainkan peran sebagai tempat dimana komunitasnya belajar tentang bagaimana sikap toleransi terhadap keberagaman diposisikan dan dihargai. Di sini, mereka tidak semata mengejar kemampuan akademik, tetapi lebih dari itu, mereka belajar tentang kehidupan itu sendiri.

Yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) disini adalah

  1. Tuna Rungu (pendengaran)
  2. Tuna Grahita (IQ di bawah 70)
  3. Tuna Netra (penglihatan)
  4. Tuna Laras (berperilaku menyimpang)
  5. Tuna Ganda (memliki kecacatan ganda, cth: tuna netra dan rungu)
  6. Autisme
  7. Tuna Daksa (cacat fisik)
  8. ADHD (hiper aktif)
  9. ADD (sangat tidak aktif, terlalu pendiam)
  10. Gifted Cerdas Istimewa (IQ diatas 130) dan Bakat Istimewa
  11. Slow Learner (IQ antara 70 – 100)

Permasalahan ini menjadi sangat rumit karena sebagian besar masyarakat tidak mengakui keberadaan mereka, bahkan tidak sedikit orang tua yang tidak mau mengakui anaknya memiliki kebutuhan khusus. Hal seperti ini bukanlah sesuatu yan dapat membantu “kesembuhan” anaknya. Yang harus difahami bahwa setiap anak memiliki potensi besar dibidang tertentu. Kecacatannya justru bisa membuat bakatnya dibidang tertentu melebihi orang pada umumnya. Yang terpenting adalah pengakuan akan keberadaan mereka oleh orang-orang disekelilingnya. Dan tidak hanya itu, orang disekeliling mereka juga harus menyadari kebutuhan khusus akan anak tersebut, memahami kekurangannya sambil juga meyakini bahwa mereka pasti mempunyai kelebihan.

Tentu saja sasaran utamanya adalah kebijakan pemerintah dalam mengakomodir kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus ini. Karena begitulah amanat UUD 1945, tidak boleh ada diskriminasi dalam mengelola pendidikan. Kita berharap pemerintah mampu menciptakan system serta sarana dan prasarana yang tepat guna bagi pendidikan anak bekebutuhan khusus ini. Namun, sekali lagi, pengakuan masyarakat terhadap keberadaan mereka merupakan hal terpenting. Karena dukungan dan kasih sayang orang-orang yang ada disekelilingnya lah yang dapat mempercepat “kesembuhan” mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s