Perjanjian Hudaibiyah

Sejarah mencatat bahwa Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani pada awal April 628M, tepatnya akhir Dzulqa’adah 6H. Nabi saw berangkat ke Mekkah pada pertengahan Maret bukan untuk mengadakan peranjian, melainkan untuk menunaikan ibadah Haji. Ketika itu Nabi saw berangkat bersama 1400 sahabat yang lengkap dengan senjata dan juga sejumlah hewan kurban.

Namun, orang-orang Quraisy tetap khawatir jika kedatangan kaum Muslimin ke Mekkah bertujuan untuk menyerang. Hingga diutuslah Khalid bin Walid beserta 300 pasukan untuk mencegah kedatangan kaum Muslimin. Mengetahui ada pasukan yang menghadang perjalanan kaum Muslimin menuju Mekkah, Nabi saw mengalihkan rute perjalanan ke jalan perbukitan yang penuh dengan bebatuan dan jarang dilalui orang.

Hingga sampai di Hudaibiyah, pasukan Quraisy sempat bertemu dengan kaum Muslimin dan hampir terjadi peperangan. Namun karena niat kaum Muslimin adalah untuk berhaji maka kaum Muslimin mampu menahan diri agar tidak terjadi perang. Melihat hal ini pun kaum Quraisy yakin bahwa kaum Muslimin ke Mekkah bukan untuk berperang. Hingga akhirnya kaum Quraisy mengirim utusan ke Hudaibiyah untuk membuat perjanjian.

Perjanjian ini ditandatangani oleh Nabi saw sebagai perwakilan kaum Muslimin dan Suhail bin Amr sebagai perwakilan kaum Quraisy. Dalam perjanjian itu ditetapkan bahwa:

  1. Masing-masing pihak, baik kaum muslimin maupun Quraisy tidak ada yang terlibat pertikaian, penyerangan dalam bentuk apapun selama 10 tahun
  2. Pihak Quraisy mengizinkan kaum Muslimin untuk menunaikan ibadah haji pada tahun berikutnya dan berada di Mekkah selama 3 hari
  3. Siapapun orang Quraisy yang datang kepada Muhammad maka harus dikembalikan. Sebaliknya, siapa saja dari kaum muslimin yang datang pada Quraisy, tidak akan dikembalikan
  4. Pihak Quraisy mengizinkan kabilah-kabilah lain untuk turut serta dalam perjanjian ini dan kabilah-kabilah tersebut diberikan kebebasan untuk masuk ke pihak manasaja dengan catatan mau memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan

Ibrah

Begitulah Nabi Muhammad saw, pemimpin yang visioner, yang mampu melihat potensi pengembangan kedepan. Bayangkan saja kondisi psikologis kaum Muslimin ketika perjanjian ini ditandatangani. Kaum Muslimin telah melakukan perjalanan jauh dan sulit, karena harus mengalihkan rute ke pegunungan yang berbatu dan sulit. Kaum Muslimin, terutama kaum Muhajirin, telah lama merindukan kembali ke Mekkah sebagai kampong halamannya. Tapi yang terjadi justru dalam perjanjian tersebut kaum Muslimin harus kembali ke Madinah dan baru bisa berhaji tahun depan.

Ditambah perjanjian yang dilihat dalam jangka pendek sangat merugikan kaum Muslimin, seperti perjanjian nomor 2. Lalu faktor emosional harga diri yang terusik dengan digantinya Bismillahirrahmanirrahim dengan Bismika Allahumma juga digantinya Muhammad Rasulullah dengan Muhammad bin Abdullah dalam teks perjanjian.

Tapi sekali lagi, Rasul saw tidak melihat itu secara emosional dan tergesa-gesa. Rasul saw melihat potensi besar dalam perjanjian ini. Hingga hasilnya pertumbuhan kader Muslim begitu pesat. Apa saja hikmah yang diambil dari perjanjian ini

  1. Sebagai masyarakat yang berdaulat, kaum Muslimin sudah mendapatkan pengakuan dari Negara lain, dalam hal ini Mekkah. Dimana Mekkah sudah diakui oleh Negara-negara di Jazirah Arab ketika itu sebagai masyarakat yang berdaulat. Karena hakekatnya perjanjian bisa terjadi ketika ada pengakuan dari kedua pihak akan eksistensi dari keduanya.
  2. Perjanjian ini menjadi payung legalitas kaum Muslimin dalam berdakwah di jazirah Arab, termasuk di Mekkah. Karena dalam perjanjian itu tidak boleh ada penyerangan dari kedua pihak. Termasuk perjanjian nomor 3 tidak menjadi sebuah kerugian bagi kaum Muslimin. Karena ketika ada seseorang dari Mekkah yang masuk Islam ia harus kembali ke Mekkah sebagai juru dakwah. Hingga justru perkembangan dakwah Islam di Mekkah menjadi signifikan, termasuk masuknya Khalid bin Walid ke dalam Islam tanpa ada satu orangpun yang bisa menghalangi.
  3. Perjanjian ini juga membuka keran dukungan kabilah-kabilah yang ada did Jazirah Arab untuk bersekutu dengan kaum Muslimin. Kabilah-kabilah yang tadinya sembunyi-sembunyi menyatakan dukungan pada kaum Muslimin, karena memandang Mekkah, setelah perjanjian ini terang-terangan menyatakan bersekutu dengan kaum Muslimin.
  4. Perjanjian ini mengajarkan kita, dalam fiqih pertimbangan yang ditulis Dr. Yusuf Al-Qordhowi bahwa dalam mengambil keputusan, kita harus mendahulukan kepentingan yang lebih luas dan lebih panjang. Lebih luas artinya membawa maslahat ke lebih banyak orang dan membawa mudhorot pada lebih sedikit orang. Lebih panjang artinya kemaslahatannya lebih tahan lama bahkan lebih berkembang dan kemudhorotannya tidak berlanjut.

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s