Integrated and Holistic Education

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, …”(Q.S. Al-Baqarah: 208)

Dalam ayat diatas Allah SWT menyeru hamba-Nya untuk masuk Islam secara total. Turunnya ayat ini dilatarbelakangi oleh pernyataan orang Yahudi yang telah masuk Islam. Mereka bertanya pada Nabi saw mengenai hari sabat (hari Sabtu sebagai hari raya mereka). “Bolehkan kami tetap merayakan hari sabat dan membaca Taurat?”. Dijawablah dengan turun ayat ini.

Masuk Islam secara total berarti masuk secara keseluruhan baik akidahnya, ibadahnya, muamalahnya maupun akhlaqnya. Pada masa penjajahan Belanda ada upaya-upaya pihak Belanda untuk memparsialkan Islam di Indonesia. Diantara yang dilakukan oleh Belanda adalah menyeleksi kitab-kitab yang boleh masuk ke Indonesia. Kitab-kitab yang boleh masuk ke Indonesia antara lain:

  1. Kitab-kitab Nahwu Sharaf, agar para santri habis waktunya mempelajari Bahasa Arab dan lupa pada tujuannya yaitu belajar Bahasa Arab untuk mempelajari literature Islam.
  2. Kitab-kitab fiqih, agar para santri sibuk berdebat masalah khilafiyah dan mudah dicerai-beraikan
  3. Kitab-kitab tasawwuf, agar umat Islam asik hidup dalam kerohaniannya dan melupakan gerakan kemerdekaan.

Belanda melarang masuk kitab-kitab yang bersifat pergerakkan, aqidah dan politik. Dengan konspirasinya Belanda berhasil membelah dua Islam, yaitu Islam ibadah dan Islam politik. Islam ibadah begitu dipelihara oleh Belanda, misalnya diberi bantuan ketika pelaksanaan shalat dan zakat, namun tidak untuk haji karena Belanda mencegah umat Islam Indonesia bertemu dengan umat Islam dari negara lain yang juga sedang memperjuangkan kemerdekaan.

Hal ini merupakan peninggalan Belanda yang masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Dimana paradigm umat Islam Indonesia pada umunya, Islam itu adanya di Mesjid dan pesantren. Jika kita ingin mencari Islam, maka carilah di Mesjid dan pesantren. Islam tidak ada kaitannya dengan pasar, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan politik, dan lain sebagainya.

Dikotomi inipun terjadi di dunia pendidikan. Paradigm yang ada, jika kita ingin pintar secara ilmu pengetahuan maka masuklah ke sekolah umum, bahkan sekolah Kristen, yang kita tidak akan mendapatkan porsi pendidikan Islam yang memadai. Tapi jika kita ingin belajar banyak tentang Islam maka masuklah ke pesantren atau madrasah, yang konsekuensinya kita akan jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Hal ini jauh dari pola pengajaran yang dilakukan oleh Rasul saw hingga kekhalifahan umat Islam sebelum dibubarkan. Islam bisa berkembang begitu pesat hingga sekitar 13 abad karena generasi muda Islam diajarkan keintergrasian antara ayat kauniyah dan ayat qauliyah, antara ilmu Illahiah dengan ilmu pengetahuan dunia. Hingga munculah pemikir-pemikir Islam yang mencerahkan dunia dari segala disiplin ilmu.

Ibnu Khaldun mengungkapkan beberapa prinsip yang melandasi penyusunan kurikulum pendidikan yang integral.

  • Prinsip At-Takamul (Integritas)

Prinsip ini menunjukkan kepada keterpaduan pembentukan kepribadian subyek didik secara utuh optimal, baik aspek kognitif, afektif fan psikomotorik. Belajar harus melibatkan rasa, cipta, dan karsa secara serempak. Ini juga berarti tidak ada pemilahan antara ilku-ilmu teoritis dan praktis

  • Prinsip At-Tawazun (Keseimbangan)

Prioritas diseleraskan dengan tingkat perkembangan anak dan kebutuhan masing-masing tingkatan itu. Adanya keseimbangan relative antara tujuan dan kandungan-kandungan ilmu.

  • Prinsip Asy-Syumul (Menyeluruh)

Menjadikan pengajaran bersifat umum, mencakup aspek-aspek berbagai ilmu pengetahuan. Prinsip ini menghendaki tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum tidak mengarah pada spesialisasi sempit.

  • Prinsip Orientasi pada Tujuan

Kurikulum sebagai perangkat rencana kegiatan, dirancang dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.

  • Prinsip Al-Ittisal (Kontinuitas)

Belajar merupakan proses yang berlangsung berkesinambungan, maka perangkat kegiatan kurikuler diausaakan berlangsung kontinu dengan kegiatan-kegiatan kurikuler yang lain. Kesinambungan itu berlangsung secara vertical (bertahap, berjenjang) maupun horizontal (berkelanjutan).

  • Prinsip Sinkronisasi

Seluruh kegiatan kurikuler haruslah seirama, seatah dan setujuan, sehingga tidak ada yang saling menghambat satu sama lain.

  • Prinsip Relevansi

Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, perkembangan kondisi sosial serta tuntutan-tuntutan perkembangn zaman lainnya.

  • Prinsip Efisiensi

Kegiatan kurikuler sebaiknya menggunakan waktu, tenaga, biaya dan sumber-sumber lain secra cermat dan tepat.

  • Prinsip Efektifitas

Kegiatan kurikuler diatur sedemikian rupa, sehingga dapat berhasil guna, yakni tercapainya tujuan pendidikan, dengan mengenyampingkan kegiatan-kegiatan yang mubazir.

Atas dasar keprihatinan dan kerinduan umat ini akan pemikir-pemikir Islam yang menjadi jendela ilmu dunia, maka perlunya ada sebuah terobosan baru dalam metode pendidikan di Indonesia. Perlu ada metode pendidikan yang mengintergrasi seluruh aspek kehidupan sehingga generasi muda Islam mampu menjadi manusia seutuhnya, sebagaimana yang dicita-citakan bangsa ini. Maka lahirlah konsep Sekolah Islam Terpadu.

Sekolah Islam Terpadu

Sekolah Islam Terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Konsep operasional Sekolah Islam Terpadu merupakan akumulasi dari proses pembudayaan, pewarisan dan pengembangan ajaran agama Islam, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi. Istilah terpadu dimaksudkan sebagai penguat (taukid) dari Islam itu sendiri. Maksudnya adalah Islam yang utuh menyeluruh, integral, bukan pasrsial, syumuliah bukan juz’iyah. Hal ini menjadi semangat utama dalam gerak da’wah did bidang pendidikan sebagai “perlawanan” terhadap pemahaman sekuler, dikotomi dan juz’iyah.

Sekolah Islam Terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis. Menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai rujukan dan manhaj asasi (pedoman dasar) bagi penyelenggranya dan proses pendidikan.
  2. Mengintergrasi nilai Islam ke dalam bangunan kurikulum. Seluruh bidang ajar dalam bangunan kurikulum dikembangkan melalui perpaduan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunnah dengan nilai-nilai ilmu pengetahuan umum yang diajarkan.
  3. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses pembelajaran. Dalam hal ini pengembangan proses belajar mengajar oleh guru, hingga guru bukan hanya sebagai pengajar tapi juga Murobbi yang juga pelatih, penasehat, pendamping dan trainer.
  4. Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik.
  5. Menumbuhkan biah solihah dalam iklim dan lingkungan sekolah: menumbuhkan kemaslahatan dan meniadakan kemaksiatan dan kemungkaran.
  6. Melibatkan peran-serta orang tua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
  7. Mengutamakan nilai ukhuwwah dalm semua interaksi antar warga sekolah.
  8. Membangun budaya rawat, resik, rapih, runut, ringkas, sehat dan asri.
  9. Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu.
  10. Menumbuhkan budaya profesionalisme yang tinggi dikalangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s