Perang Hunain

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah: 25-27)

Sekitar tahun 8 hijriah setelah futhu Mekkah, suku Hawazih dan Tsaqif merasa tidak senang dengan kemenangan umat Islam terhadap orang-orang Quraisy di Mekkah. Hingga mereka merencanakan penyerangan terhadap umat Islam, dengan dipimpin oleh Malik bin Auf. Malik bin Auf bukan hanya membawa pria sebagai pasukannya, tapi juga seluruh pasukannya diperintahkan untuk membawa serta seluruh hartanya dan juga istri beserta anak-anak mereka. Tujuannya agar pasukan Hawazih dan Tsaqif tidak mundur dari medan perang dan mempertahankan mati-matian harta dan keluarga mereka.

Mendengar hal ini Rasul saw mengutus Abdullah bin Hadrad untuk mencari informasi kekuatan pasukan yang dipimpin oleh Malik bin Auf. Setelah mengetahui kekuatan musuh Rasul saw menyiapkan 12.000 pasukan untuk berperang, 10.000 orang dari Madinah dan 2.000 orang dari mu’allaf Mekkah. Rasul saw begitu serius mempersiapkan perang ini, untuk menambah kekuatan pasukannya Rasul saw hendak meminjam baju perang beserta senjata kepada Sofwan bin Umaiyah yang ketika itu masih kafir. Sofwan bersedia menyewakan 100 baju perang dan senjatanya karena percaya Rasul saw tidak akan melanggar kesepakatan sewa-menyewanya.

Malik bin Auf merencanakan serangan mendadak kepada pasukan muslimin. Malik bin Auf menempatkan pasukannya di lembah Hunain yang memiliki goa-goa kecil. Goa-goa tersebut digunakan sebagai tempat persembunyian pasukannya, yang akan menyerang mendadak ketika pasukan muslimin masuk ke lembah Hunain.

Pasukan muslimin beristirahat malam hari di mulut lembah Hunain. Sebelum fajar sepenuhnya muncul, pasukan Muslimin dari suku Bani Salim tiba di jalur Lembah Hunain di bawah komando Khalid bin Walid. Ketika sebahagian besar tentera Islam masih di dalam lembah itu, tiba-tiba terdengar bunyi riuh desiran panah dan teriakan ramai pasukan musuh yang sebelumnya telah duduk menghadang di sebalik batu-batu. Ini menciptakan kegemparan luar biasa di kalangan kaum Muslimin.

Panah menghujani mereka, dan sekelompok musuh menyerang di bawah lindungan para pemanahnya. Serangan mengejut ini menyebabkan kaum Muslimin bertempiaran dan mereka segera mencari perlindungan. Kekacauan dan perpecahan pun timbul. Perkembangan ini sangat menggembirakan kaum munafik yang ada di antara tentera Islam. Sebahagian berkata, “Kaum Muslimin akan melarikan diri hingga ke pesisir laut.” Seorang munafik lain mengatakan, “Sihir telah terlawan.” Yang lain bertekad untuk menghabisi Islam dalam keadaan kacau itu dengan membunuh Nabi untuk menghancurkan keimanan kepada Allah Yang Maha Esa dan kenabian Islam sekaligus.

Pasukan Muslimin pun berlarian keluar dari Lembah Hunain, namun Rasul saw sebagai seorang pemimpin tidak sedikitpun mundur dari medan pertempuran. Sambil menunggang keledainya, Rasul saw berseru dengan suara nyaring, “Hai pembela Allah dan Nabi-Nya! Aku hamba Allah dan Nabi-Nya.” Rasul saw mengucapkan kalimat ini lalu memalingkan keledainya ke medan pertempuran yang telah diduduki tentera Malik. Sekelompok orang siap berkorban, seperti Ali, Abbas, Fadhal bin Abbas, Usamah, dan Abu Sufyan bin Harits, yang tak sudi membiarkan Nabi sendirian tanpa perlindungan, juga maju bersama Rasul saw.

Rasul saw meminta Abbas, bapa saudaranya, yang suaranya amat keras, untuk memanggil kembali kaum Muslimin yang bertempiaran, “Hai Ansar yang menolong Nabi-Nya! Hai kaum yang membai’at Nabi di bawah pohon syurga! Kemana kamu akan pergi? Nabi berada di sini!” Kata-kata Abbas sampai ke telinga kaum Muslimin dan merangsang semangat dan ghairah keagamaan mereka. Mereka semua segera menyambut dengan mengatakan, “Labbaik! Labbaik!” Lalu kembali dengan gagah berani bersama-sama Rasul saw.

Seruan Abbas yang berulang-ulang, yang memberi khabar gembira tentang keselamatan Rasul saw, membuat orang-orang yang berlarian itu kembali kepada Rasul saw dengan rasa penyesalan dan mengatur lagi barisannya. Sesuai dengan perintah Rasul saw, dan untuk menghapus noda malu kerana melarikan diri itu, kaum Muslimin melakukan suatu serangan umum. Dan dalam waktu sangat singkat, mereka berhasil memukul musuh mundur atau melarikan diri. Untuk memberi semangat kepada kaum Muslimin, Rasul saw mengatakan, “Saya Nabi Allah dan tak pernah berdusta, dan Allah telah menjanjikan kemenangan kepada saya.”

Taktik perang ini berhasil membuat pasukan Hawazin dan Tsaqif melarikan diri ke wilayah Autas dan Nakhlah dan ke benteng Tha’if, dengan meninggalkan kaum wanita dan harta mereka serta tenteranya yang mati di medan pertempuran. Lalu Rasul saw mencek lapangan pertempuran, dan Rasul saw berkata siapa yang membunuh pasukan musuh maka dia berhak atas harta rampasan perang yang melekat di tubuh orang yang ada dibunuhnya.

Rasul saw. melewati seorang perempuan yang di bunuh oleh Khalid bin Walid Ra., dan orang-orang berkerumun di tempat tersebut, maka Rasul saw. Bertanya: apa ini? Mereka menjawab: seorang perempuan yang  telah terbunuh oleh Khalid bin Walid, maka Rasul saw. bersabda kepada sebagian orang yang ada bersamanya: temui Khalid dan katakan kepadanya: sesungguhnya Rasul saw. melarang kamu untuk membunuh bayi atau anak-anak, perempuan, budak atau buruh.. Lalu Rasul menghampiri Ummu Sulaim yang masih memegangi belatinya dan bertanya apakah beliau berhasil membunuh pasukan musuh.

Ummu Sulaim bukanlah pasukan aktif yang berada di medan pertempuran. Rasul saw menyertakan wanita dalam berperang sebagai petugas medis dan pembawa air bagi pasukan muslimin. Wanita tidak terlibat aktif dalam pertempuran, adapun belati yang dibawa Ummu Sulaim hanya sebagai pertahanan diri.

Sebelum pasukan muslimin mengejar pasukan Hawazin dan Tsaqif ke banteng Tha’if, Rasul saw mengumpulkan seluruh harta rampasan perang di suatu tempat dan menugaskan beberapa orang pasukan untuk menjaganya. Tidak boleh ada yang menyentuhnya sampai di perintahkan untuk dibagikan oleh Rasul saw. Setelah merasa cukup mengamankan harta rampasan perang dan tawanan perang, Rasul saw dan pasukan muslimin bergerak ke banteng Tha’if.

Rasul saw pasukan muslimin mengepung banteng Tha’if untuk beberapa hari. Setelah itu Rasul saw memutuskan untuk menyudahi pengepungan dan kembali ke titik awal. Beberapa sahabat bertanya kepada Rasul saw, kenapa kita menyudahi pengepungan, bukankah seharusnya pasukan Hawazih dan Tsaqif itu layak diperangi. Rasul saw hanya senyum saja dan tetap melanjutkan perjalanannya. Lalu para sahabatpun meminta Rasul saw berdoa untuk kehancuran orang-orang Hawazih dan Tsaqif. Namun Rasul saw justru berdoa meminta aga orang-orang Hawaizh dan Tsaqif di rahmati dan diberi hidayah.

Sesampai di titik awal Rasul saw menemukan muslim Hawazih yang meminta keluarga dan hartanya dikembalikan. Lalu Rasul saw berkata jika mereka orang-orang yang jujur, mereka diminta memilih antara keluarganya dan hartanya. Tentu saja muslim-muslim Hawazih itu lebih memilih keluarganya. Mendapatkan jawaban itu, Rasul saw menyampaikan kepada sahabat-sahabatnya bahwa beliau berpendapat untuk menyerahkan kembali tawanan perang pada keluarganya, dan para sahabat pun setuju dengan usul Rasul saw.

Setelah menyerahkan tawanan pada keluarganya, Rasul saw menitip pesan untuk Malik bin Auf, jika ia bersedia masuk Islam maka Rasul saw akan mengembalikan harta dan keluarganya dengan ditambah 100 ekor Unta. Tidak lama setelah mendapat pesan itu, Malik bin Auf menemui Rasul dan menyatakan ke-Islam-annya, dan sesuai dengan janjinya Rasul saw mengembalikan harta dan keluarganya dengan ditambah 100 ekor Unta.

Rasul saw memberikan bagian harta rampasan perang kepada para orang-orang penting Arab Quraisy yang baru masuk Islam, juga memberikan bagian kepada orang-orang Quraisy yang lain sedangkan Rasul saw tidak memberikan orang-orang Anshar bagian harta rampasan perang sedikitpun, sehingga hal ini membuat sebagian dari mereka berkomentar karena merasa bersedih di sebabkan tidak mendapatkan bagian harta rampasan perang, sehingga sebagian dari mereka mengatakan:

“Rasulullah saw telah bertemu dengan kaumnya, artinya beliau saw tidak akan mengingat kita lagi setelah Allah SWT membuka kota Mekkah dan orang-orang Quraisy masuk islam.

Mendengar hal ini, Rasul saw mengumpulkan orang-orang Anshar dan berpidato di depan mereka, maka beliau saw bersabda setelah bertahmid kepada Allah SWT dan memuji-Nya:

“Wahai sekalian orang-orang Anshar! Ada suatu ucapan dari kalian yang telah sampai kepada saya, suatu ketidakpuasan yang kalian dapatkan tentang saya dalam diri kalian? Bukankah kalian dulu adalah orang-orang yang sesat maka Allah swt. Memberikan petunjuk kepada kalian? Kalian adalah orang-orang yang fakir kemudian Allah SWT Menjadikan kalian orang-orang yang kaya? Kalian saling bermusuhan maka Allah SWT menjadikan hati kalian bersatu, mereka menjawab: benar! Allah dan Rasul-Nya adalah pemberi kebaikan dan kemuliaan kepada kami, kemudian beliau saw bersabda lagi: ‘tidakkah kalian menjawabku wahai orang-orang Anshar? Mereka mengatakan: dengan apa kami menjawabmu wahai Rasulullah? untuk Allah SWT dan Rasul-Nya pemberian dan karunia, demi Allah SWT jika  kalian mengatakan hal ini kalian akan membenarkannya, kalian mengatakan anda telah di dustakan oleh kaum anda maka kami membenarkanmu, dan kamu di usir maka kami menolongmu, dan kamu terusir maka kami menjagamu, anda fakir dan kami membantumu, apakah kalian akan mengatakan hal tersebut pada diri kalian mengenai  sesuatu yang tidak bernilai dari dunia yang aku lakukan untuk melembutkan hati orang-orang yang baru masuk Islam, sementara  kalian saya tinggalkan dengan islam karena iman kalian lebih kuat, wahai kaum Anshar! Apakah kalian tidak rela dengan berangkatnya orang-orang dengan mendapatkan unta dan kambing , sementara kalian kembali ke tempat kalian bersama Rasulullah saw? Maka Demi jiwa Muhammad saw yang berada di genggaman-Nya, seandainya bukan karena Hijrah maka saya adalah termasuk orang Anshar, seandainya seseorang berjalan dalam sebuah perjalanan dan orang-orang anshar memilih jalan yang lain maka aku akan mengikuti jalan anshar, ya Allah rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak anshar dan cucu-cucu kaum anshar!, maka kaum anshar menangis sehingga air matanya membasahi jenggot mereka, kemudian mereka mengatakan: “kami rela dengan pembagian Rasulullah saw.”

Ibrah

  • Intelijen, bahwa setiap aktifitas peperangan yang dilakukan oleh Rasul saw tidak pernah terlepas dari aktifitas intelijen. Aktifitas ini penting sebagai peunjang keberhasilan perang dan dakwah. Bahwa penguasaan medan dan kekuatan musuh sangatlah berpengaruh terhadap penyusunan dan penentuan strategi yang tepat. Masih ingat peristiwa Rasul saw mengutus ‘Abdullah bin Jahsy sebagai intelijen dengan instruksi yang jelas dan rapih, dan ‘Abdullah bin Jahsy pun mengikuti persis apa yang diperintahkan Rasul saw, tidak dikurangi dan ditambahkan.

Rasulullah saw. mengutus ‘Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab al-Asadi pada bulan Rajab. Bersamanya turut serta 8 orang dari Muhajrin. Rasulullah saw. memberikan sepucuk surat kepada ‘Abdullah bin Jahsy. Beliau memerintahkan kepadanya untuk tidak membuka/melihat surat tersebut kecuali setelah berjalan dua hari berturut-turut. Artinya, perintah beliau bersifat sangat rahasia, dan tidak boleh bocor kepada siapa pun. ‘Abdullah bin Jahsy pun diperintahkan untuk tidak bertanya sesuatu pun, kecuali setelah membuka surat itu dua hari kemudian.

‘Abdullah bin Jahsy pun berjalan selama dua hari. Setelah itu, barulah surat tersebut dibukanya. Al-Waqidi mengisahkan isi surat tersebut sebagai berikut:

Berjalanlah sampai ke jantung daerah Nakhla—dengan nama Allah—dan sampai ke kolam (sumur)-nya. Janganlah engkau mencegah seorang pun dari sahabat-sahabatmu untuk turut bersamamu. Laksanakanlah perintahku beserta orang-orang yang mengikutimu sampai di jantung daerah Nakhla (terletak antara Makkah dan Thaif, pen.). Lalu amatilah gerak-gerik orang-orang Quraisy.

  • Boleh meminjam atau menyewa senjata atau meminta bantuan personil kepada orang kafir.

Dalam peperangan ini disebabkan kekurangan bekalan senjata maka Rasul saw  meminjam senjata dan seratus baju besi daripada Sofwan bin Umaiyah yang belum Islam lagi pada masa itu. Pinjaman ini tidak menjatuhkan maruah umat Islam kerana Sofwan adalah seorang yang dipercayai dan dia agak lemah serta tidak mampu menguasai umat Islam melalui senjata yang dipinjamkan itu.

Atas dasar pertimbangan itu diperbolehkan meminjam atau menyewa pada orang kafir dalam pengadaan amunisi dakwah. Syaratnya adalah tidak mempengaruhi arah kebijakan dakwah dan tidak mengkontaminasi konten dari dakwah itu sendiri. Contohnya ketika ada orang non-muslim yang bersedia membantu pengadaan brosur Pemilu, maka hal itu sah-sah saja. Asalkan tidak ada deal-deal politik yang mempengaruhiarah kebijakan dakwah di parlemen atau kebijakan khusus yang harus diluluskan.

  • Bukanlah jumlah yang menjadi ukuran kemenangan

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah: 25-27)

Kemenangan di medan-medan perang bukan karena jumlah yang banyak, dan bukan juga karena  fasilitas senjata yang memadai, akan tetapi karena kekuatan jiwa atau ruh yang abstrak di dalam diri para pasukan, para pasukan islam pada peperangan tersebut menggambarkan akidah yang bersih, iman yang menyala, bahagia dengan mati syahid, serta mengharapkan pahala yang di janjikan Allah swt. dan surga-Nya, sebagaimana juga mereka menggambarkan kebahagiaan karena terbebas dari kesesatan, perpecahan, dan keburukan. Sedangkan pasukan orang-orang musyrik menggambarkan akidah yang rusak, akhlak yang jelek, ikatan sosial yang tidak kompak, tenggelam dalam kenikmatan duniawi, dan rasa fanatik yang mendalam dalam terhadap tradisi-tradisi yang rusak, dan kepada nenek moyang mereka, serta kepada Tuhan-tuhan mereka yang palsu.

Coba anda perhatikan Apa yang di lakukan kedua pasukan tersebut sebelum di mulai peperangan, orang-orang musyrik Quraisy sebelum perang Badar  di mulai mereka mengadakan pesta minum arak selama tiga hari, yang di ikuti dengan nyanyian para penyanyi, mereka memukul rebana, mereka menyalakan api agar orang-orang arab mengetahui apa yang mereka sedang lakukan sehingga mereka menakutinya, mereka mengira hal tersebut adalah suatu cara untuk meraih kemenangan.

Sedangkan para pasukan muslim sebelum memulai suatu peperangan mereka menghadap kepada Allah swt. dengan hati mereka, mereka meminta pertolongan-Nya, mereka mengharapkan pahala mati syahid, mereka mencium bau surga, dan Rasulullah saw. sujud sambil berdo’a dengan sepenuh hati memohon kepada Allah swt. agar menolong hamba-hamba-Nya yang mukmin, dan hasilnya orang-orang yang bertakwa dan khusyu’ meraih kemenangan dan orang-orang yang melaksanakan hal-hal yang tidak berguna atau sia-sia mengalami kekalahan.

  • Keikutsertaan wanita dalam peperangan

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: “Rasulullah saw. pernah berperang bersama Ummu Sulaim serta beberapa orang kaum wanita Ansar. Ketika beliau sedang bertempur, mereka membantu memberi minum serta mengobati para prajurit yang terluka.” (Shahih Muslim No.3375)

Dijelaskan bahwa keikutsertaan wanita dalam berperang tidaklah lebih fungsinya untuk merawat yang terluka dan memberikan air kepada pasukan. Adapun belati yang dibawa Ummu Sulaim hanya sebagai self defence. Adapun kewajiban fardhu ‘ain berperang bagi wanita ketika negerinya diserang, maka seluruh penduduknya wajib untuk membela tanah airnya.

  • Larangan membunuh wanita, anak-anak dan budak

Dari ‘Aidz Ibnu Umar dan al-Muzanny Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” Riwayat Daruquthni.

Karena Islam adalah agama yang tinggi, maka Islam sangat menghormati wanita dan anak-anak sekalipun dalam keadaan berperang. Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak ketika dalam peperangan. Adapun pengecualian untuk hal ini ketika wanita dan anak-anak itu aktif menyerang dan seorang muslim yang mengahadapinya dalam keadaan terdesak, tidak ada jalan kecuali memeranginya. Karena jika tidak diperangi justru akan adapat menyebabkan kematian.

  • Jihad untuk dakwah bukan untuk menghancurkan

Jihad peperangan yang dilakukan umat Islam bukanlah untuk menghancurkan suatu negeri, tujuannya adalah sebagai bentuk membuka jalan syiar dakwah. Penaklukan terhadap suatu negeri yang dilakukan umat Islam bukanlah untuk mengeruk kekayaan suatu negeri apalagi menghancurkannya. Penaklukan negeri yang dilakukan umat Islam diniatkan sebagai pembuka jalan dakwah di negeri tersebut.

Hal ini jelas dicontohkan Rasul saw ketika melakukan pengepungan terhadap benteng Tha’if. Rasul saw tidak serta merta melululantakkan banteng Tha’if, justru Rasul saw mendoakan agar Allah SWT memberikan hidayah kepada orang-orang Hawazih dan Tsaqif. Ini dilakuakn karena jihad bukanlah sebuah bentuk penaklukan semata, tapi merupakan bagian dari dakwah.

  • Kebijaksanaan Terhadap Mu’allaf

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)

Sebagaimana fitrah manusia, bahwa manusia memiliki kecintaan terhadap harta. Maka kebijakan Rasul saw yang memberikan seluruh harta rampasan perang pada mu’allaf Quraisy merupakan suatu upaya Rasul saw menunjukkan perhatiannya kepada para mu’allaf. Karena iman mereka masih lemah dan orientasi mereka terhadap manusia masih kental.

Upaya pemberian perhatian melalu materipun sesekali perlu dilakukan kepada mad’u atau binaan para da’i. ini melakin hanya sebagai usaha menunjukkan rasa perhatian para da’I terhadap mereka yang masih lemah imannya. Contohnya mentraktir makan atau memberikan hadiah pada mereka.

Adapun yang dilakukan Rasul saw terhadap Malik bin Auf, merupakan bentuk pengamatan yang baik dari Rasul saw akan potensi dari objek dakwahnya. Setelah Malik bin Auf menyatakan ke-Islam-annya, maka tidak lama orang-orang Hawazih dan Tsaqif-pun berbondong-bondong masuk Islam.

Namun perlakuan berbeda terhadap sahabat-sahabat Anshor yang sudag teruji keimanan dan keikhlasannya. Bagi mereka keberadaan Rasul saw ditengah-tengah mereka tidak bias digantikan dengan harta sebanyak apapun. Ini adalah bentuk ri’ayah (penjagaa) Rasul saw terhadap sahabat-sahabatnya dari penyakin Al- Wahn atau cinta dunia.

One thought on “Perang Hunain

  1. Pingback: PAHLAWAN ISLAM YANG PALING TERKENAL | Dreamer Princess Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s