Mengikat Hati Sebelum Menjelaskan

Dalam kaidah Fiqh dakwah kali ini, diajarkan pada para da’i untuk mengikat hati sebelum menjelaskan. Risalah Islam merupakan risalah kasih sayang, maka barang siapa yang memikul risalah ini ia harus memliki sifat kasih sayang. Sebagaimana telah diajarkan Rasulullah saw dalam mengemban risalah ini. Allah SWT berfirman :

“ Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya: 107)

Seorang da’i yang bijaksana adalah orang-orang yang mampu melihat hati-hati yang tertutup dan kemudian berupaya membukanya dengan lemah lembut dan kasih sayang. Dengan inilah diharapkan hati yang keras menjadi lunak dan mau membuka diri untuk menerima kebaikan. Karena sesuatu yang datangnya dari hati maka akan sampai di hati, dan sesuatu yang datangnya hanya dari lisan maka hanya akan sampai di telinga.

Perlu diketahui bahwa manusia fitrahnya menyukai kesenangan dan dunia. Seperti yang Allah SWT firmankan:

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan swah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik ( surga).” (Ali-Imran: 14)

Jadi manusia akan memiliki kecenderungan untuk berbuat salah dan menentang kebenaran untuk meraih kesenangan dunia itu. Apalagi jika hati yang sudah lama tidak tersentuh dakwah, maka hati itu sudah mengeras dan menghitam. Jika kita menyerunya dengan keras maka yang terjadi adalah benturan antara keduanya. Maka sikap lemah lembut dapat melunakkan hati yang telah mengeras itu. Sebagaimana yang telah Rasulullah saw contoh kan berulang kali, seperti pada penduduk Tha’if, dsb.

Dakwah itu tegak diatas hikmah, salah satu maknanya adalah adaptasi terhadap situasi dan kondisi. Ali bin Abi Thalib bekata:

“ Sesungguhnya hati manusia itu kadang-kadang menerima dan kadang-kadang menolak. Maka apabila hati itu menerima, bawalah dia untuk melakukan nawafil (amalan-amalan sunnah), dan apabila hati itu sedang menolak, maka pusatkanlah (cukupkanlah) untuk melakukan faraidh (yang wajib-wajib).”

Dalam kalimat diatas diperlihatkan seseorang yang dididik langsung oleh Rasulullah saw, beliau mengajarkan agar para da’i mampu melihat situasi dan kondisi mad’u (objek dakwah)nya dalam berdakwah. Tidak bisa kita serta merta menyamaratakan kondisi setiap objek dakwah kita, sehingga semuanya mendapatkan perlakuan yang sama.

Dalam kalimat diatas Ali bin Abi Thalib ra juga mengajarkan agar bertahap dalam berdakwah. Jangan kita langsung menyuguhkan semua kewajiban seorang muslim bagi orang yang baru mengenal Islam. Lakukan secara bertahap, sebagaimana dulu Rasulullah saw melarang khamr dan mewajibkan hijab bagi wanita.

Hindarilah Perdebatan

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. Kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Rabb kami dan Rabb kamu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (Al-Ankabuut: 46)

Dalam ayat diatas Allah SWT memerintahkan kita untuk menghindari perdebatan. Jikapun harus berdebat maka debatlah dengan cara yang paling baik. Hal ini untuk memikat hati orang yang berbeda pendirian dan mempersempit jurang pemisah, karena hakekatnya perdebatan yang panjang hanya akan menambah tebal banteng antara da’i dan objek dakwahnya.

Cara yang termasuk lebih baik adalah dengan menyebutkan titik-titik kesepahaman. Kemudian menjadikan titik-titik kesepahaman titik tolak untuk lebih jauh membicarakan titik perbedaan. Buatlah kesan bahwa titik kesepahaman keduanya lebih banyak daripada titik perbedaannya. Adapun titik perbedaan yang sulit dipertemukan maka keputusan dikembalikan kepada Allah SWT. Biarlah Allah SWT yang menghakimi siapa yang benar dan yang salah di akhirat kelak.

Apabila hal ini yang diperintahkan Allah SWT terhadap ahli kita, lalu bagaimana dengan sesama muslim? Dimana di antara keduanya ada ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah, yaitu ikatan akidah.

Imam Al-Ghazali mengisahkan dalam kitabnya sebagai berikut, “ Ada seorang lelaki masuk ke rumah Khalifah Al-Makmun untuk memerintahkan yang makruf kepadanya dan mencegah dari berbuat munkar. Maka kemudian orang itu berkata kasar kepada beliau dan keras dalam mengungkapkan sesuatu, dan tidak memperlihatkan bahwa setiap kondisi itu ada ungkapan tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut. Sedang Al-Makmun adalah orang yang memahami fiqih dakwah, maka beliau berkata kepadanya, ‘Hai saudaraku, bersikaplah lemah lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik daripada kamu kepada orang yang lebih buruk daripada aku, namun Allah tetap memerintahkan utusan-Nya itu untuk bersikap lemah lembut. Allah telah mengutus Musa dan Harun – dimana keduanya lebih baik daripada kamu – kepada Fir’aun, yang dia itu lebih buruk daripada aku.’ Allah SWT berwasiat pada Musa dan Harun dengan firman-Nya,

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” ( Thaaha: 43-44)

Kadang kala sebagian aktivis dakwah mencampur-adukkan antara berterus terang dalam kebaikan dengan kekerasan dalam berdakwah. Padahal di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jelas. Justru dengan kerasnya perkataan dapat menutupi kebaikan itu sendiri. Objek dakwah akan lebih defensive terhadap kebaikan yang disampaikan dibandingkan menerimanya sebagai sebuah maslahat.

Jangan Mendahului Kehendak Allah SWT

Janganlah para da’i mendahului kehendak Allah SWT dengan memvonis objek dakwahnya tidak akan mendapat ampunan, rahmat dan hidayah dari Allah SWT. Sungguh jika para da’i melakukan itu, maka sesungguhnya mereka sudah menjadi lebih buruk tingkah lakunya dan lebih celaka daripada sang pembuat dosa. Allah SWT mengampuni orang yang merasa hina dan merendah diri di hadapan-Nya dengan tobat yang sesungguhnya. Sementara orang yang merasa bangga terhadap dirinya, karena menganggap dirinya paling suci dan terbebas dari dosa sehingga hal ini yang membuatnya menjauhkan diri dari Allah SWT.

Sesungguhnya jika kamu tidur semalaman dan kemudian dipagi hari kamu menyesal, maka itu lebih baik bagimu daripada kamu shalat semalaman kemudian kamu kagum dengan dirimu sendiri di pagi hari. Karena orang berbangga diri amalnya tidak diterima. Dan jika kamu tertawa dan menyesali dosamu, itu lebih baik daripada kamu menangis tetapi kamu berbangga diri.

Tugas para da’i adalah membersihkan jiwa dan hati objek dakwahnya, bukan menghakiminya. Sehingga ketika mereka mengetahui aib objek dakwahnya, maka mereka harus menutupinya bukan malah mempublikasikanya danmenghakimi dosa yang telah diperbuatnya. Para da’i seharusnya membantu objek dakwahnya untuk menghindari kemaksiatan tersebut. Yaitu dengan menunjukkan pintu tobat. Allah berfirman:

“Katakanlah, ‘ Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Az-Zumar: 53)

Allah SWT Yang Mengikat Hati

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( Al-Anfaal: 63)

Para da’I juga harus meyakini bahwa yang mengikat hati mereka dengan objek dakwah mereka adalah Allah SWT. Tidak satupun materi atau rangkaian kata yang dapat mengikat hati antara keduanya kecuali diiringi atas izin dan kehendak Allah SWT. Maka kekuatan doa dalam aktivitas dakwah kita menjadi hal yang sangat penting. Seberapa keraspun usaha  ketika Allah SWT tidak mengkehendaki maka apa daya manusia. Allah SWT berfirman:

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibrahim: 4)

Maka selain menyeru yang makruf dan mencegah yang munkar, doa pun merupakan aktivitas dakwah yang bias dilakukan para da’i. Karena sebagaimana doa Rasulullah, bahwa Allah SWT – lah yang membolak-balikan hati.

Jadilah kamu seperti pohon yang dilempari dengan batu, maka pohon itu menjatuhkan buahnya. Mereka melempari kamu dengan penghinaan dan pelecehan, bahkan penyiksaan, tetapi kamu sikapi mereka dengan lemah lembut, lunak dan kesabaran dalam menghadapi mereka semua itu. Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua urusan. -Hasan Al Banna-

Wallahu’alam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s